Bandara Internasional Kertajati di Jawa Barat yang di klaim sebagai bandara kedua terbesar di Indonesia mendapat penolakan dari warga sekitar yang lahan sawahnya kena imbas dari proyek bandara ini. Apapun alasannya (mungkin faktor politik atau memang warga tidak terima lahan pertaniannya dijadikan bandara), yang jelas mengalihfungsikan lahan pertanian bukanlah sesuatu yang lebih penting saat ini.

Berdasarkan Index Global Food Security, Indonesia menempati ranking 71 dari 113 negara yang jika dibandingkan dengan Singapore yang menempati ranking 3 dunia, hal ini sangat memprihatinkan.  Dinyatakan pada website tersebut, Indonesia mendapatkan performa yang sedang. Untuk negara agraris seperti Indonesia hal ini masih belum cukup.

Pada website yang lain yaitu "Food Security Portal", Indonesia adalah negara dengan index kelaparan global yang cukup tinggi. Dalam 8 tahun terakhir tidak ada perubahan apapun terhadap status ini. Dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapore dan Malaysia yang 8 tahun sebelumnya adalah negara dengan index kelaparan global yang cukup tinggi, tetapi saat ini (2016) index kelaparan global mereka sudah rendah. Bila kita merasa saat ini sepertinya kita masih aman-aman saja, segala kebutuhan pangan terpenuhi, bisa membeli dengan harga yang kadang naik sulit turun, mungkin ini tidak akan terjadi lagi 5 atau 10 tahun kedepan. Jadi kasarnya dikatakan begini "Orang punya duit pun tidak bisa beli makanan, karena tidak ada yang jual".

Pertumbuhan penduduk dunia yang begitu pesat tidak sebanding dengan cadangan pangan yang ada. Profesi petani saat ini terus ditinggalkan dan tidak dianggap. Di Bali misalnya, profesi ini terus ditinggalkan, anak-anak muda tidak mau menjadi petani karena hasil dari kegiatan pertanian tidak seberapa, kebanyakan akan mencari pekerjaan ke kota seperti Denpasar/Badung. Sawah-sawah mulai di jual selain untuk biaya hidup, alasan kebutuhan upacara, dan juga untuk life style. Akhirnya petani-petani sudah tidak memiliki lahan lagi dan banyak yang jadi transmigran kedaerah lain untuk kembali menjadi petani di daerah lain. Setelah bertahun-tahun, belasan tahun bahkan puluhan tahun jadi petani di kalimantan/sumatera/sulawesi, dengan alasan yang sama, hasilnya yang tidak seberapa, transmigran-transmigran dari Bali ini akhirnya memutuskan kembali untuk pulang ke Bali, dimana mereka sudah tidak punya rumah, sawah dan tinggal ramai-ramai di rumah tua bersama saudara lainnya. Masalahnya sama, faktor-faktor yang mendukung pertanian ini dari kebijakan pemerintah, harga pupuk, bibit, dan harga jual produk pertanian sangat tidak mendukung.

Mari dukung dan support petani untuk menjadi petani yang lebih baik. Hidup Petani!!



Comments

Hint: 200 words allowed! 0/200 Words

Explore Smarty